mas template
Headlines News :
mas template
Home » , » Kontroversi Kematian Jim Morrison, Dari Nol Kembali Ke Nol Bagian 4 : Kembali Ke Nol

Kontroversi Kematian Jim Morrison, Dari Nol Kembali Ke Nol Bagian 4 : Kembali Ke Nol

Written By maskolis on Monday, 30 May 2011 | 23:25


Saya menerima telepon dari orang yang suka bersikap seolah-olah ia adalah manajer kami. Sebetulnya ia hanyalah seorang roadie yang kemudian kami promosikan untuk menjadi penjaga telepon, namun hal ini membuatnya besar kepala. Ia menjadi arogan. Ia bersikap ngebos terhadap para promotor pertunjukan ataupun para wartawan yang hendak minta wawancara dengan The Doors. Tapi…ya sudahlah, ia bisa dipercaya. Orang ini bernama Bill “Southbay” Sindon.

“Ray ada kabar buruk, saya baru menerima telepon dari Paris. Jim meninggal” Gila, saya pikir.  Ya karena di akhir tahun 70 dan awal tahun 1971,  paronia sedang melanda kaum muda Amerika. Kematian dan rumor mengenai kematian melanda kami semua, masuk melalui alam sadar dan meresap ke alam bawah sadar, dimana hal tersebut kemudian berkembang seperti kangker.

Di tahun yang penuh kegelapan itu semua orang meninggal….dengan cara yang berbeda-beda. Janis Joplin meninggal. Jimi Hendrix meninggal. Paul Mc Cartney juga meninggal karena berjalan di  zebra cross Abbey Road (seperti terlihat dicover album Abbey Road milik The Beatles ) tanpa sepatu—berjalan tanpa alas kaki, dengan berjas, tidak selaras dengan temannya yang lain. Jadi ia harus mati…..atau paling tidak demikianlah rumor yang berkembang. Keluarga Kennedy pada mati. Martin Luther King juga mati. Inilah pahlawan-pahlawan kita. Dunia  dengan segera dipenuhi oleh arwah-arwah tentara muda—umunya tentara Amerika atau tentara Vietnam, juga para wanita Vietnam dan anak-anak Vietnam. Orang-orang menjadi terobsesi dengan kematian. Semua menjadi terasa aneh untuk bisa dicerna oleh akal sehat, sementara rumor-rumor terus berkeliaran.

Sebagai contoh, saat kami para bintang rock sedang mengadakan pesta disebuah kawasan di Hollywood. Ganja dan Anggur murahan bertebaran. Jim seharusnya sudah berada di tempat ini, tapi seperti biasanya ia terlambat datang, Dengan tiba-tiba seseorang berlari dan berteriak.

“Oh My God ! Oh God ! Jim Morrison kecelakaan, tabrakan ! ia meninggal,”

Well, tentu saja Jim selalu menggunakan mobil “Blue Lady,” Shelbby GT 500nya. Mobil sport yang sangat laju untuk dipakai ngebut. Oleh karenanya apa yang dikatakan orang tadi sangat mungkin terjadi. Dan tak seorangpun yang tahu apa yang harus diperbuat. Berjalan dan bicara tanpa arah. Panik. “Bagaimana?” “Dimana?” “Apa yang harus kita lakukan?” “Panggil Ambulan.” “Dibawa kemana” “Ambulan itu akan tiba di sini,” “Kita tak butuh, ambulan di sini kita butuh ambulan di tempat kejadian.” “Dimana itu? Dimana dia ?” “Siapa dia?” Ternyata tak ada seorangpun yang tahu mengenai orang yang tadi berteriak-teriak. Bahkan apakah ia seorang laki-laki atau perempuan. Tidak ada seorangpun yang yakin tentang siapa orang tersebut. Gelombang perasaan takut dan ketidak berdayaan merasuk melalui tiga cakra paling bawah pada diri kami. Kami memasuki wilayah kegelapan pada diri kami, yang membuat kami dicengkram oleh rasa ketakutan.

Jim Morrison dengan GT Shelby 500 nya.

Hah, namun apa yang terjadi kemudian ? Lima menit setelah kegaduhan tersebut Jim masuk ke ruang pesta. Segar bugar dan siap berpesta. Kami berteriak, “Jesus, Jim kami mendapat kabar kamu tewas karena mengalami kecelakaan.” Ia memandang kami dengan wajah diliputi keheranan. Kemudian dia berbicara dengan mengutip kata-kata Mark Twain yang terkenal, “No, Man kabar mengenai kematian saya adalah kabar yang terlalu dibesar-besarkan.” Kami menghela nafas panjang, tertawa atas kebodohan kami, pesta dilanjutkan….jauh sampai larut malam.

Oleh karenanya ketika Sidon mengabarkan bahwa Jim meninggal lagi, saya tak mempercayainya. Dan itu bukan karena saya tak mau berpikir bahwa teman baik saya meninggal, tapi yang terbayang adalah saat-saat Jim berada di tengah pesta beberapa waktu yang lalu, Jim berdiri, senyumnya yang khas membayang diwajahnya yang tampan, seolah menikmati absurdnya ketika ia diberitakan meninggal, padahal ia masih segar bugar. Saya berpikir betapa konyolnya jika saya mempercayai kabar ini, oleh karenya saya akan menyikapinya sebagai rumor yang biasa berkeliaran saat itu, tentang banyak tokoh-tokoh ternama. Dan tentu saja saya tak perlu pergi ke Perancis untuk membuktikan kebenaran omongan Sidon.

“Saya tak percaya Bill. Dan tentunya saya tak perlu pergi ke Paris. Ingat kejadian di Pesta beberapa waktu lalu ?”

“Saya kira yang ini serius Ray,” kata Bill.

Saya terdiam sejenak, menangkap rasa panik yang terasa pada suara Sidon.

“Kalau begitu begini saja,” kata saya. “Ada penerbangan siang hari ini ke Paris kan ? Pesan tiket, kelas satu, dan pergilah ke sana.”

“Saya sudah pesan tiket itu Ray, yang saya ingin pastikan adalah kamu baik-baik saja mendengar berita ini.”

“Well, tenang saja, saya baik-baik saja kok. Sekarang berangkatlah.”

“Saya akan menghubungi kamu,” kata Sidon, “dari sana.”

“Oh ya Bill,” saya mengingatkan. “Pastikan ya, kali ini betul-betul pastikan,”dan saya menutup telepon.

***

Tiga hari kemudian, Bill menelpon.

“Kami baru saja memakamkan Jim Morrison,”kata suara dari sebrang sana.

“Siapa ini ?” saya berteriak marah kepada penelpon yang menghubungi

“Ini Bill, Bill Sindon,” “ jawab sang penelpon.

“Bill apa yang kamu maksud memakamkan? Apakah kamu tidak sedang menghayal? Apakah maksud kamu Jim betul-betul meninggal ?”

“Kali ini betul Ray.”

“Bagaiman bisa? Apa…apa yang terjadi? Maksud saya apakah ia tertabrak mobil, atau apakah ia mengalami kecelekaan ? atau ia kerobohan tembok ……

“Kami tidak tahu.”

“…..atau dibunuh ? Seseorang menembaknya atau memukuli sampai mati ?”

“Saya tidak tahu Ray. .”

“Bill apa yang kamu maksud dengan tidak tahu ?”

“Ia meninggal bukan karena sebab-sebab yang kau sebut tadi. Ia ...meninggal.”

“Jesus Kristus,” saya berusaha untuk paham. Tak masuk akal. “Apa?” “Dimana?”

“Di apartemennya. Di Bathtub.”

“Apakah ada orang yang menganiayanya, atau ada hal lain ?”

“Tidak,” kata Bill,”Dari sertifikat kematian yang diberikan oleh dokter kalau tidak salah bunyinya “jantungnya berhenti berdenyut” ya seperti itulah . Semuanya tertulis dalam bahasa Perancis, jadi saya tidak mengerti.”

“Oh, man. Well, bagaimana muka Jim kelihatannya ?”

“Saya tidak tahu Ray”

“Jika kamu sekali lagi berkata tidak tahu, akan saya cekik kamu. Saya bertanya bagaimana kelihatannya dia. Jangan katakan tidak tahu.” Dan IA KEMBALI MELEDAKAN BOM!

“Saya tidak tahu, SAYA TIDAK PERNAH MELIHAT MAYATNYA.”

“Bagaimana kamu bisa tidak melihat jasadnya ?” Rasanya saya ingin melempar gagang telepon yang saya pegang ini ke pojokan dapur, dimana saya dan Dorothy biasa makan pagi. Atau memukulkannya ke kepala Sidon. BEGITULAH KALAU MENGUTUS ANAK_ANAK UNTUK TUGAS ORANG DEWASA.

“Ia sudah ada dalam peti mati yang tertutup.”

“Kamu katakan kamu tidak pernah melihat jasad Jim ?! Mengapa tidak kamu buka peti mati tersebut ?” Saya menjadi sangat marah.

Suara Bill terdengar menggiggil. “Saya tidak bisa.”

“Mengapa kamu tidak meminta untuk membukanya? Mengapa kamu tidak berkata, Saya ingin melihat Jim Morrison, saya manajer The Doors dan saya ingin melihat jasadnya ! Mengapa kamu tidak melakukan itu ? ” Dan kemudian, hal yang tak masuk akal……..

“Saya takut” kata Bill.

“Jadi kamu mengubur peti mati?”

“Betul Ray. Kami menguburnya tadi pagi.”

“Lalu bagaimana kamu bisa yakin bahwa yang ada dalam peti tersebut adalah jasad Jim Morrison, bukan sekarung pasir ?”

“Well, uhh Pam menangis tak henti-hentinya. Dan ..uh maksud saya…Jasad Jim memang berada dalam peti mati tersebut. Saya yakin itu.”

“Oh Jesus,” tiba-tiba saya merasa sesak. Cerita yang membingungkan ini mulai menjadi jelas.

“Bill, kan saya sudah berkata kamu harus memastikan bahwa ini bukan sekedar rumor. Tapi hasilnya kok begini.” Saya berhenti sejenak, mencoba menghirup nafas, menguatkan diri menghadapi kenyataan. “Dimana…dimana ia dikuburkan ?”

“Di Paris. Kalau nggak salah di suatu tempat yang bernama Pere Lachaise cemetery. Saya tidak tahu cara pengucapannya yang benar, Ray.”

“Ah tak perlu Bill.”

“Tempatnya sangat bagus.” Kata Bill berusaha mengubah suasana. “Banyak seniman-seniman ternama dikubur di sana. Chopin dan uh.. Sarah Bendhardt dan Oscar Wilde, dan uh …. “kata Bill lagi. “Saya tidak tahu siapa lagi, namun pokoknya banyak sekali.”

“Oh bagus itu, Bill. Tapi benarkah jasad Bill yang dikubur itu ?”

“Saya kan sudah mengatakan padamu Ray , kami baru menguburnya tadi pagi.”

“Kamu mengubur peti mati yang tertutup. Kita tidak tahu siapa ini sebenarnya. Ini akan menjadi rumor dan akan banyak cerita berkembang dari sini.”

“Apa maksudmu Ray ?”

“Tak apa-apa. Suatu hari nanti kamu akan paham. Sekarang pulanglah.”

Saya kemudian meletakan gagang telepon ditempatnya. Belakangan saya tahu bahwa hanya Agnes Verda, Alain Ronay, Pam dan Sidonlah yang ada di pemakaman. Hanya empat orang dipagi yang indah di Paris. Dan ia telah tiada. Ia pergi ke Paris untuk berlibur. Dan ia mati. Sesederhana itu. Dan semembingungkan itu.

***

Kematian Jim Morrison segera kami umumkan. Media kami beri tahu. Perusahaan rekaman Elektra kami beri tahu. Pengacara kami, kami beritahu. Dan dari situlah rumor mulai bermunculan. Saya tidak ingin membuat bantahan-bantahan yang malah akan menambah ramai rumor yang berkembang. Namun jika anda membaca buku ini……mungkin anda bisa tahu beberapa rumor berkaitan dengan kematian Jim Morrison. Ia mati bunuh diri. Ia mati dibunuh orang. Dibunuh oleh CIA. Ia masih hidup dan tinggal di Afrika. Ia masih hidup dan tinggal di pedalaman Australia. Ia menjadi pendeta di Tibet. Hal-hal semacam itu. The pathetics need for the secret plots. Konspirasi dimana-mana. Kita terperangkap dalam rasa ketakutan yang berlebihan. Kita tidak memiliki keyakinan pada energi. Bahwa energi adalah kita dan menopang semua kehidupan. Kita kehilangan pemahaman mengenai perputaran hidup. Kita bahkan tidak mempercayai perputaran. Semuanya adalah satu garis lurus yang menuju kita. Kita semua harus berkembang. Kita semua harus punya tujuan. Jika orang yang mengaku beragama tidak berkembang, ia akan menjadi gila. Jika kehidupan adalah perputaran orang akan menjadi gila. Jika dia tidak naik tingkat maka ia akan jadi gila.

Dan kita memang akan menjadi gila.

Sore harinya kami berkumpul di kantor The Doors. Kami betul-betul terpukul. Semua. John, Robby dan saya., Kathy Lisciandro (sekretaris kami), Leon Barnard (publisher kami), Vince Treanor (road manajer kami) dan Danny Suggerman (Office Boy, dan belakangan akan menjadi manajer the Doors). Kami merasa hancur, remuk. Kami menunggu Jim Morrison kembali, menggarap lagu-lagu baru, berlatih bersama kami. Kami menunggu untuk bisa bermain musik lagi, album baru (lagu-lagu baru yang kami buat sangat menjanjikan), naik panggung, bergembira bersama, mendapat pengalaman baru yang luar biasa. Tiba-tiba Jim tidak hanya tidak kembali . Tapi ia juga meninggal.

Kami tidak bisa membuat karya seni bersama lagi. Kami tidak mungkin “bercinta” di atas panggung lagi. Jim dan saya tak akan pernah menggarap Dyonnasus dan Apollo dichotomy lagi. Kami berempat tak akan masuk ke wilayah itu lagi, wilayah yang suci, transedental….membuat musik the doors lagi. Semua sudah berlalu. Kami akan selalu merasa ada bagian dari diri kami yang hilang. Di sisa-sisa hidup kami.

S E L E S A I

Sebagaimana di tuturkan oleh RAY MANZAREK dalam bukunya :  LIGHT MY FIRE, MY LIFE WITH THE DOORS

Baca juga :
Sumber : http://onestopblues.com/kontroversi-kematian-jim-morrison-dari-nol-kembali-ke-nol-bagian-4-kembali-ke-nol/
Share this article :

1 comment:

mas template
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. MASKOLIS - All Rights Reserved
maskolis
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya